pencarian

Minggu, 06 Januari 2013

Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia milik KITA


Enam puluh tujuh tahun yang lalu, Soekarno dengan gagah dan lantangya mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang berarti mulai detik itu Indonesia telah mempunyai hak untuk menentukan nasib rumah tangganya sendiri tanpa ada campur tangan dari berbagai pihak.
Hasil yang dicapai Indonesia kala itu tidak lepas dari peran pemuda untuk turut serta dalam berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan. Mereka sadar sebagai tulang punggung negara, nasib bangsa ada ditangan mereka. Perjuangan yang diwarnai dengan pertumpahan darah tidak menggerogoti kebulatan tekad pemuda untuk berjuang demi ibu pertiwi, bahkan justru menjadi pendobrak semangat mengusir penjajah yang sudah ratusan tahun menginjak-injak martabat bangsa Indonesia. Dimulai dari pergerakan pertama di Indonesia yakni Sarekat Dagang Islam (1905) yang disusul dengan gerakan nasionalis Budi Utomo (1908), pemuda kala itu seakan tidak pernah lelah untuk melakukan gerilya maupun perlawanan secara terbuka untuk membebaskan rakyat dari penderitaan.
Sudah seharusnya pengorbanan mereka mendapatkan penghargaan dari kita sebagai penerus perjuangkan pahlawan Indonesia. Bukan maksud pahlawan gila akan penghargaan, tetapi sebagai pemuda kita hendaknya sadar akan kondisi bangsa kita sekarang ini yang membutuhkan generasi penerus untuk menjadikan Indonesia lebih baik kedepannya. Mengingat Indonesia sedang “sakit”, pemuda-pemudanya harus berperan sebagai dokter untuk menyembuhkan “sakit” itu dengan berpegang pada Pancasila dan UUD 1945.
Kasus korupsi yang tidak pernah ada ujungnya, kemiskinan yang kian hari semakin memprihatinkan dan kriminalitas yang semakin meningkat menjadi masalah kita pemuda Indonesia, dan menjadi tanggung jawab bersama untuk membasminya.
Pancasila sebagai ideologi, telah dirumuskan dan disessaikan dengan jati diri bangsa Indonesia. Namun, disaat Pancasila semakin tua dan digerogoti oleh perjalanan waktu, Pancasila semakin rapuh. Padahal seharusnya semakin kuat dan kokoh dalam menyeleseikan permasalahan yang pelik di Indonesia. Sudah  saatnya bangsa Indonesia kembali kepada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ideologi bangsa kita yakni Pancasila.
Jika pun pancasila dinilai tidak relevan, itu bukan karena nilai-nilainya yang sekarang tidak sesuai dengan bangsa Indonesia. Tapi kondisi moral bangsa Indonesia yang kian terpuruk menjadikan Pancasila hanya sebagai simbol.
Sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan, wajib bagi kita untuk mengembalikan nilai-nilai lihur yang terkandung dalam Pancasila. Nilai-nilai yang sudah final, nilai-nilai yang menjadi harga mati untuk dipertahankan. Tidak ada yang bisa menggantikan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia, mengingat negara kita adalah negara multikultural. Dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika-nya, seharusnya mampu mempersatukan Indonesia menjadi negara yang besar dan kuat. Implementasi dan aplikasi nilai Pancasila yang tepat dalam kehidupan bermasyarakat akan membawa Indonesia pada kemakmuran dan kesejahteraaan. Tidak akan ada pemuda yang saling tawuran dan pejabat pemerintah yang saling berebut kekuasaan. Tidak akan ada kasus pertikaian antar agama seperti kasus di Sampang (Madura) ataupun konflik agama di Jawa Tengah yang terhitung mencapai sekitar 25 kasus selama 2012 ini.
Bukan lagi saatnya kita pemuda bersikap acuh dan antipati terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di negara Indonesia, yang mengancam persatuan dan kesatuan Negara Indonesia. Orang Betawi bilang “gue-gue, elu-elu”.
Saat ini, Indonesia benar-benar membutuhkan perbaikan di segala bidang. Sikap selektif harus ditingkatkan mengingat arus globalisasi dan modernisasi yang sekarang ini dengan mudah mengubah pandangan dan citra diri bangsa Indonesia khususnya para pemudanya. Disaat batas-batas negara semakin kabur, pertukaran ideologi dan budaya sangat memungkinkan terjadi, jangan sampai ideologi kita sebagai bangsa timur tergerus oleh budaya barat yang tidak sesuai dengan ideologi hidup kita.
Peribahasa Jawa mengatakan ngeli ning ojo keli, yang maknanya sebagai pemuda yang hidup di era kemajuan IPTEK seperti sekarang ini, boleh saja dan bahkan wajib untuk mengikuti perkembangan dan kemajuan, namun jangan sampai kemajuan IPTEK saat ini membuat kita lupa akan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Bukan malah menerima arus globalisasi dengan senang hati tanpa sikap selektif. Ketika K-Pop (Korean Pop) memasuki Indonesia dengan lagu-lagu dan artis-artisnya yang memukau, dimana-dimana anak muda membicarakan dan mengidolakan artis-artis Korea, bahkan meniru dandanannya yang tidak sesuai dengan adat kita. Begitu mudahnya budaya luar masuk ke Indonesia dan menjadi trend masa kini. Sedangkan budaya Indonesia sendiri dilupakan. Kecintaan terhadap produk lokal pun semakin usang. Anak muda sekarang lebih suka dan memilih produk-produk dari luar negeri, padahal jika dibandingkan produk Indonesia tidak kalah kualitasnya dengan produk dari luar negeri. Itulah masalah-masalah yang sedang dihadapi pemuda masa kini.
Untuk menuju masyarakat yang sejahtera dibutuhkan usaha bersama-bersama, penguatan karakter bangsa harus digalakkan dengan pendidikan Pancasila dan implementasi dari nilai Pancasila. Kemajuan bangsa adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Semua elemen harus terlibat, baik pemerintah sebagai elemen tertinggi dalam pemerintahan harus bisa menjadi teladan bagi rakyat. Begitupun rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, wajib untuk mentaati segala peraturan yang telah dibuat dan disepakati agar tercipta masyarakat yang selaras dan harmoni. Karena Indonesia milik kita, bukan milikku saja ataupun milikmu seorang.



Sumber : http://www.analisadaily.com/news/read/2012/10/01/77812/ayo_menggali_kembali_nilainilai_luhur_pancasila/#.UNovz-R1-Fk


Tidak ada komentar:

Posting Komentar