Enam puluh tujuh tahun yang lalu, Soekarno dengan gagah dan
lantangya mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang berarti mulai
detik itu Indonesia telah mempunyai hak untuk menentukan nasib rumah tangganya
sendiri tanpa ada campur tangan dari berbagai pihak.
Hasil yang dicapai Indonesia kala itu tidak lepas dari peran pemuda
untuk turut serta dalam berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan. Mereka sadar
sebagai tulang punggung negara, nasib bangsa ada ditangan mereka. Perjuangan
yang diwarnai dengan pertumpahan darah tidak menggerogoti kebulatan tekad
pemuda untuk berjuang demi ibu pertiwi, bahkan justru menjadi pendobrak
semangat mengusir penjajah yang sudah ratusan tahun menginjak-injak martabat
bangsa Indonesia. Dimulai dari pergerakan pertama di Indonesia yakni Sarekat
Dagang Islam (1905) yang disusul dengan gerakan nasionalis Budi Utomo (1908),
pemuda kala itu seakan tidak pernah lelah untuk melakukan gerilya maupun
perlawanan secara terbuka untuk membebaskan rakyat dari penderitaan.
Sudah seharusnya pengorbanan mereka mendapatkan penghargaan dari
kita sebagai penerus perjuangkan pahlawan Indonesia. Bukan maksud pahlawan gila
akan penghargaan, tetapi sebagai pemuda kita hendaknya sadar akan kondisi
bangsa kita sekarang ini yang membutuhkan generasi penerus untuk menjadikan
Indonesia lebih baik kedepannya. Mengingat Indonesia sedang “sakit”, pemuda-pemudanya
harus berperan sebagai dokter untuk menyembuhkan “sakit” itu dengan berpegang
pada Pancasila dan UUD 1945.
Kasus korupsi yang tidak pernah ada ujungnya, kemiskinan yang kian
hari semakin memprihatinkan dan kriminalitas yang semakin meningkat menjadi
masalah kita pemuda Indonesia, dan menjadi tanggung jawab bersama untuk
membasminya.
Pancasila sebagai ideologi, telah dirumuskan dan disessaikan dengan
jati diri bangsa Indonesia. Namun, disaat Pancasila semakin tua dan digerogoti
oleh perjalanan waktu, Pancasila semakin rapuh. Padahal seharusnya semakin kuat
dan kokoh dalam menyeleseikan permasalahan yang pelik di Indonesia. Sudah saatnya bangsa Indonesia kembali kepada
nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ideologi bangsa kita yakni Pancasila.
Jika pun pancasila dinilai tidak relevan, itu bukan karena
nilai-nilainya yang sekarang tidak sesuai dengan bangsa Indonesia. Tapi kondisi
moral bangsa Indonesia yang kian terpuruk menjadikan Pancasila hanya sebagai
simbol.
Sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan, wajib bagi kita
untuk mengembalikan nilai-nilai lihur yang terkandung dalam Pancasila.
Nilai-nilai yang sudah final, nilai-nilai yang menjadi harga mati untuk
dipertahankan. Tidak ada yang bisa menggantikan Pancasila sebagai ideologi
bangsa Indonesia, mengingat negara kita adalah negara multikultural. Dengan
semangat Bhinneka Tunggal Ika-nya, seharusnya mampu mempersatukan Indonesia
menjadi negara yang besar dan kuat. Implementasi dan aplikasi nilai Pancasila yang
tepat dalam kehidupan bermasyarakat akan membawa Indonesia pada kemakmuran dan
kesejahteraaan. Tidak akan ada pemuda yang saling tawuran dan pejabat
pemerintah yang saling berebut kekuasaan. Tidak akan ada kasus pertikaian antar
agama seperti kasus di Sampang (Madura) ataupun konflik agama di Jawa Tengah
yang terhitung mencapai sekitar 25 kasus selama 2012 ini.
Bukan lagi saatnya kita pemuda bersikap acuh dan antipati terhadap
fenomena-fenomena yang terjadi di negara Indonesia, yang mengancam persatuan
dan kesatuan Negara Indonesia. Orang Betawi bilang “gue-gue, elu-elu”.
Saat ini, Indonesia benar-benar membutuhkan perbaikan di segala
bidang. Sikap selektif harus ditingkatkan mengingat arus globalisasi dan
modernisasi yang sekarang ini dengan mudah mengubah pandangan dan citra diri
bangsa Indonesia khususnya para pemudanya. Disaat batas-batas negara semakin
kabur, pertukaran ideologi dan budaya sangat memungkinkan terjadi, jangan
sampai ideologi kita sebagai bangsa timur tergerus oleh budaya barat yang tidak
sesuai dengan ideologi hidup kita.
Peribahasa Jawa mengatakan ngeli ning ojo keli, yang
maknanya sebagai pemuda yang hidup di era kemajuan IPTEK seperti sekarang ini,
boleh saja dan bahkan wajib untuk mengikuti perkembangan dan kemajuan, namun
jangan sampai kemajuan IPTEK saat ini membuat kita lupa akan jati diri sebagai
bangsa Indonesia. Bukan malah menerima arus globalisasi dengan senang hati
tanpa sikap selektif. Ketika K-Pop (Korean Pop) memasuki Indonesia dengan
lagu-lagu dan artis-artisnya yang memukau, dimana-dimana anak muda membicarakan
dan mengidolakan artis-artis Korea, bahkan meniru dandanannya yang tidak sesuai
dengan adat kita. Begitu mudahnya budaya luar masuk ke Indonesia dan menjadi trend
masa kini. Sedangkan budaya Indonesia sendiri dilupakan. Kecintaan terhadap
produk lokal pun semakin usang. Anak muda sekarang lebih suka dan memilih
produk-produk dari luar negeri, padahal jika dibandingkan produk Indonesia
tidak kalah kualitasnya dengan produk dari luar negeri. Itulah masalah-masalah
yang sedang dihadapi pemuda masa kini.
Untuk menuju masyarakat yang sejahtera dibutuhkan usaha
bersama-bersama, penguatan karakter bangsa harus digalakkan dengan pendidikan
Pancasila dan implementasi dari nilai Pancasila. Kemajuan bangsa adalah
tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Semua elemen
harus terlibat, baik pemerintah sebagai elemen tertinggi dalam pemerintahan
harus bisa menjadi teladan bagi rakyat. Begitupun rakyat sebagai pemegang
kedaulatan tertinggi, wajib untuk mentaati segala peraturan yang telah dibuat
dan disepakati agar tercipta masyarakat yang selaras dan harmoni. Karena
Indonesia milik kita, bukan milikku saja ataupun milikmu seorang.
Sumber
: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/10/01/77812/ayo_menggali_kembali_nilainilai_luhur_pancasila/#.UNovz-R1-Fk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar